Hello! Myspace Comments Welcome Myspace Comments Hello! Myspace Comments Thank You Myspace Comments

Mengenai Saya

Foto saya
anak manusia yang sedang mencari kesempurnaan dibalik segala ketidaksempurnaannya

Selasa, 05 April 2011

Hari yang Indah

Sabtu... 6 November 2010

Setiap hari adalah hari yang indah...
Setiap hari yang dimulai dengan niat yang baik, merupakan hari yang sangat baik...
Hari ini, seperti biasa,,
Bangunnya agak telat... hehehhe...
Langganan telat bangun nih sepertinya..

Semalam udah niatan, kalo hari ini pengen 8sila (*), hari ini kan hari uposatha. .
Walaupun bangunnya telat, tapi tetep jalan aja..
Seperti biasa, setiap bagi selalu kubuka dengan membacaan paritta dan sejenak meditasi..
Plus pembacaan paritta atthasila (8 sila) pada hari ini...
bla..bla...bla..bla..bla.... (lagi baca paritta nih)

Akhirnya slesai juga...
Yap,, selamat menjalankan 8 sila...

Senin, 04 April 2011

Tempayan yang Bocor

Seorang ibu di Cina yang sudah tua memiliki dua buah tempayan yang digunakan untuk mencari air,yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu. Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela dan selalu memuat air hingga penuh.


Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh. Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan. Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya. Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Sukses Dengan Kekuatan Sendiri

BHIKKHU PANNAVARO MAHATHERA

Bekerja dengan penuh semangat tanpa wisdom, suatu saat akan membuat seseorang kecewa.
Tetapi apa artinya wisdom tanpa semangat. Wisdom tanpa semangat akan membuat orang akan menyesal.
Manusia dalam hidupnya memerlukan kelengkapan.
Pakaian, makananan, tempat tinggal dan obat-obatan. Dan kebutuhan ini akan berkembang dan kebutuhan lainnya akan muncul, pendidikan, kendaraan, dan hiburan.
Dan kalau semuanya itu terpenuhi maka kemudian secara umum hidup seseorang itu di sebut sukses.
Saya akan menguraikan uraian saya meskipun tidak terlalu detail dengan dua hal yang saling melengkapi, yaitu faktor eksternal dan factor internal.

Faktor Eksternal

Ada kepercayaan di masyarakat yang rasanya kita semua pernah mendengar. Yaitu Nasib manusia tidak akan berubah kalau manusianya itu sendiri tidak mengubahnya.
Benar saudara....
Ungkapan ini benar sekali.
Jangan harap nasib kita berubah jika kita sendiri tidak siap dan tidak mau untuk mengubahnya.
Ada beberapa factor mental yang sangat diperlukan sekali, antara lain empat factor mental meskipun factor itu tidak hanya empat. Terutama untuk mencapai sukses yang di luar diri kita, antara lain:

Harus Berjuang


Kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan yang mengharuskan kita berjuang dan berjuang terus untuk mencapai keadaan yang lebih baik. Tiap orang harus mengakui bahwa kehidupan ini bukanlah suatu puncak, bukan pula suatu keadaan yang sesuai dengan harapan kita.

Apakah yang kita perjuangkan, yang kita usahakan? Tujuan kita memeluk suatu agama, berjuang dengan sungguh-sungguh adalah memperjuangkan agar kehidupan kita menjadi lebih baik, lebih teratur. Sesungguhnya mau atau tidak mau kita sudah mengakui bahwa kehidupan ini tidak memuaskan. Seandainya kita konsekwen dengan keyakinan bahwa kehidupan ini adalah suatu puncak kebahagiaan, tentunya kita tidak perlu beragama lagi, tidak perlu berjuang dengan sengit, tidak perlu meningkatkan kehidupan lagi, karena kehidupan kita sudah baik.

Buddha Tidak Pernah Menjanjikan Hal-Hal Indah Padaku

(Sebuah renungan yang Wajib dibaca..... khususnya umat Buddha !!!)

Buddha tidak pernah menjanjikan hal-hal indah kepadaku
Dia tidak pernah menjanjikan aku pasti akan ke surga atau nirvana bila percaya kepadaNya.
Buddha juga tidak pernah berkata" kalau tidak percaya Dia pasti masuk neraka.
Dia juga tidak memberikan sebuah dongeng yang mengerikan ataupun yg menyenangkan supaya aku percaya dan takut terhadapNYa.

Atau Buddha begitu lugu kah ? Di semua agama berkata. akulah yg menciptakan langit dan bumi ini.

Kenapa Dia tidak pernah mengatakan ", Akulah yg menciptakan langit dan bumi ini", oh..putra yg berbudi.
Dia juga tidak pernah menjanjikan hal-hal yg indah untuk ke depan, bahkan Dia juga tdk bisa mensucikan org lain.
Bahkan untuk mensucikan diri sendiri pun mengandalkan kita sendiri, tapi kenapa aku masih mau mengikuti ajaranya ?

Wisdom of Silence by Ajahn Brahm

Ajahn Brahm
Bagi kamu yang mengalami kesulitan bermeditasi, hal ini disebabkan kamu belum belajar bagaimana melepas pada saat bermeditasi. Mengapa kita tidak bisa melepaskan hal-hal sederhana seperti masa lampau atau masa mendatang? Mengapa kita begitu mempedulikan apa yang telah dilakukan dan dikatakan seseorang terhadap kita hari ini? Semakin banyak kamu memikirkannya, semakin bodohlah jadinya. Seperti pepatah kuno, “Ketika seseorang menyebutmu idiot, semakin sering kamu mengingatnya, maka semakin seringlah mereka telah menyebutmu idiot!” Jika kamu segera melepaskannya, kamu tidak akan pernah memikirkannya lagi. Paling banyak mereka hanya menyebutmu idiot sekali saja. Sudah! Selesai! Kamu bebas!

Perubahan

Tidak ada yang kekal di alam semesta ini, semuanya berubah. Apakah yang tidak berubah? Apa saja berubah! Perubahan memang dapat membawa pada kemajuan. Yang kecil menjadi besar, yang dulu tidak mampu sekarang hidupnya menjadi lebih baik, yang di bawah kemudian bisa naik. Semua itu terjadi karena fenomena perubahan. Kalau tidak ada perubahan, tidak akan ada kemajuan.

Kalau kita mengalami kesulitan yang sulit di pecahkan, tetapi kita menyadari bahwa di dunia ini semuanya terkena perubahan, maka akan timbul optimisme, timbul harapan bahwa persoalan apapun juga akan berubah. Kalau memang persoalan-persoalan itu tidak berubah, tentu kondisi, faktor lingkungan yang mengelilingi persoalan itu akan berubah. Tetapi, seandainya persoalan dan kondisinya tidak berubah dan kita sulit menerima hal atau keadaan itu, seiring dengan berjalannya waktu, tentu timbul perubahan di sekitar kita, maka permikiran kita juga berubah. Kalau sebulan yang lalu sangat sulit menerima, sekarang kita sudah siap untuk menerimanya.

Cukup Itu Berapa?

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata "cukup".

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan di sana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.


Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orangtuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang.


Kapankah kita bisa berkata cukup?



Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati.

Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa menerima kenyataan sebagaimana adanya. Tak perlu takut berkata cukup.

Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya."Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.


Belajarlah untuk berkata "Cukup"


Aku tak suka bibirku.. kurang seksi. Aku ingin seperti Angelina Jolie.



Di saat yang sama seseorang menghadapi kenyataan...

Timbunan kamma yang dimiliki hanya menghasilkan bibir seperti ini...


Kisah Arloji yang Hilang

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Tindakan Uposatha

Ditujukan untuk mereka yang akan beruposatha di hari2 uposatha

Bilamana, O para bhikkhu, tindakan Uposatha sempurna di dalam delapan faktor, maka buah dan manfaatnya pun berlimpah, bersinar dan merebak. Dan bagaimana tindakan Uposatha sempurna di dalam delapan faktor yang membuatnya memiliki buah dan manfaat yang melimpah, bersinar dan merebak?

Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia merenungkan demikian: "Selama hidup, para Arahat meninggalkan pembunuhan dan tidak melakukannya; dengan kail dan senjata yang disingkirkan, mereka penuh kesadaran, baik hati dan hidup dalam kasih sayang terhadap semua makhluk. Hari ini aku juga, selama siang dan malam ini, akan melakukan hal yang sama. Aku akan meniru para Arahat di dalam hal itu, dan tindakan Uposatha akan terpenuhi olehku." Inilah faktor pertama yang dimilikinya.

Selanjutnya, dia merenungkan: "Selama hidup, para Arahat meninggalkan perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan dan tidak melakukannya; mereka menerima hanya apa yang diberikan, mengharapkan hanya yang diberikan, dan berdiam dengan hati yang jujur, bebas dari keinginan mencuri. Hari ini aku juga, selama siang dan malam ini, akan melakukan hal yang sama...." Inilah faktor kedua yang dimilikinya.