Hello! Myspace Comments Welcome Myspace Comments Hello! Myspace Comments Thank You Myspace Comments

Mengenai Saya

Foto saya
anak manusia yang sedang mencari kesempurnaan dibalik segala ketidaksempurnaannya
Tampilkan postingan dengan label dhamma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dhamma. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 September 2011

Menyucikan Hati – Ven. Ajahn Chah

Akhir-akhir ini banyak orang pergi ke berbagai tempat untuk melakukan kebajikan (memberikan persembahan) ke vihara. Dan mereka tampaknya selalu singgah di Wat Ba Pong (sebuah vihara di Thailand), entah dalam perjalanan perginya, atau pada pulangnya. Beberapa orang begitu terburu-buru sehingga saya tidak sempat bertemu atau pun bercakap dengan mereka. Kebanyakan orang mencari kebajikan, tetapi saya lihat tidak banyak yang mencari jalan keluar dari perbuatan salah. Mereka begitu bernafsu mendapatkan jasa, tetapi tidak tahu akan menempatkannya di mana. Ini seperti mencoba mewarnai kain yang kotor, dengan tidak mencucinya.

Minggu, 03 Juli 2011

Sigalovada Sutta

Sigalovada sutta ini berisikan percakapan Sang Buddha dengan seorang kepala
keluarga yang masih muda yang bernama Sigala. Disini dijabarkan bagaimana
ajaran tentang Ariyasa Vinaya (tata peraturan Ariya) yang terdapat dalam
ajaranNya, yaitu menghormati mereka yang berharga dan berguna dengan
menjalankan kewajiban kita masing-masing.

Sudah bukan rahasia lagi bagi kita, umat Buddha berkeluarga yang ingin hidup
berbahagia , aman, tentram dan sejahtera dengan menjalankan kewajiban kita.
Ingin tahu kewajiban kamu apa saja..? Lihat yang satu ini

Demikianlah yang telah kudengar:

Pada suatu hari Sang Bhagava bersemayam di dekat Rajagaha di Veluvana di
Kalandakanivapa. Pada waktu itu Sigala yang muda belia, putera seorang kepala
keluarga, bangun pagi-pagi sekali, pergi keluar Rajagaha. Dengan rambut dan
pakaian basah ia mengangkat tangan yang dirangkap, menyembah berbagai arah
bumi dan langit: Timur, Selatan, Barat, Utara, Bawah dan Atas.

Senin, 23 Mei 2011

Kehebatan Memberi

Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima, karena ada keajaiban dibalik "memberi".
Suatu rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang yang berjiwa besar.

Memberi itu menyehatkan.
Dr. Allan Kuts mengadakan penelitian yang melibatkan 3.000 sukarelawan, mengambil kesimpulan : "memberi atau menolong orang lain dapat mengurangi rasa sakit, mengurangi rasa stres, meningkatkan endorfin dan meningkatkan kesehatan"

Prof. David Mc Clelland juga menambahkan : "melakukan sesuatu yang positif terhadap orang lain akan dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh, sebaliknya orang kikir cenderung terserang penyakit"

Mengapa demikian ?
Karena orang kikir biasanya cinta uang, bila uangnya sedikit berkurang maka dia akan stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol yang akan mengurangi kekebalan tubuh.

Memberi dapat memperpanjang umur, James Hous dalam risetnya menyimpulkan : "menolong orang lain secara sukarela meningkatkan kebugaran tubuh dan angka harapan hidup"

Jumat, 20 Mei 2011

Membalas Budi Orang Tua

Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu? Ibu dan Ayah.

Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana – bahkan perbuatan itupun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka.

Apakah alasan untuk hal ini?

Orang tua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.

Tetapi, O para bhikkhu, seseorang yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas; yang mendorong orang tuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan - orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.

Minggu, 08 Mei 2011

Peristiwa Kelahiran Agung

Sang Buddha lahir di antara suku Sakya (623 SM), di sebuah kerajaan di negeri yang sekarang bernama Nepal. Raja bernama Suddhodhana, permaisurinya adalah Ratu Maya. Meskipun Raja Suddhodana dan Ratu Maya sudah lama menikah, namun anak yang sangat mereka dambakan belum juga mereka peroleh, sampai pada suatu waktu Ratu Maya mencapai umur 45 tahun. Ketika itu Ratu Maya ikut serta dalam perayaan Asadha yang berlangsung tujuh hari lamanya. Setelah perayaan selesai Ratu Maya mandi dengan air wangi, mengucapkan janji uposatha dan kemudian masuk ke kamar tidur.

Selasa, 19 April 2011

Kelapa _ Ajahn Chah

by Novi Pasti Bisa on Sunday, March 28, 2010 at 6:05pm
Facebook notes


Keinginan adalah kotoran bathin, namun kita tetap harus memiliki keinginan untuk memulai berlatih Sang Jalan. Misalnya kita ke pasar membeli kelapa dan ketika pulang seseorang bertanya:

Gelas _ Ajahn Chah

by Novi Pasti Bisa on Sunday, March 28, 2010 at 6:10pm
Facebook notes

Banyak yg datang pada saya memiliki status tinggi dalam komunitasnya.
Mereka adalah pedagang, lulusan universitas, guru, dan pejabat.

PARABHAVA SUTTA - Penyebab Kejatuhan Seorang Kaya

Sering kita dengar mengenai seseorang yang dahulunya kaya, tetapi
kemudian mengalami kebangkrutan dan jatuh miskin. Ada beberapa
penyebabnya seperti misalnya kesalahan di dalam perencanaan atau
karena ditipu oleh pihak lain.

Mendapat Kegembiraan Dengan Memberikan Kegembiraan Pada Orang Lain

Lupakan soal suka dan tidak suka. Keduanya bukanlah konsekuensi, Kerjakan apa yang harus dikerjakan. Mungkin itu bukan sesuatu yang membahagiakan, namun disitulah letak kebesaran.

Dialog singkat antara teologis yang berasal dr brazil, Leonardo Boff dan Dalai Lama

"Yang disucikan, agama apakah yang terbaik?
(Saya pikir beliau akan berkata: "buddhis tibet" atau agama-agama di asian, jauh lebih tua dari pada kristiani )
Dalai Lama berhenti, tersenyum dan melihatku di mata...yang mana mengejutkanku karena aku mengetahui maksud jahat dari pertanyaanku.

Minggu, 10 April 2011

Ceramah Pagi Minggu, 10 April 2011 oleh Bhikkhu Chandaviro

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Mengapa kekerasan semakin melanda dunia?

Na hi verena verāni, sammantῑdha kudācanaṁ,
averena ca sammanti, esa dhammo sanantano.
Dalam dunia ini, kebencian tidak pernah dapat dilenyapkan dengan kebencian, kebencian hanya dapat dilenyapkan dengan cinta kasih
dan saling memaafkan. Ini adalah kebenaran abadi.
(Dhammapada I:5)

Senin, 04 April 2011

Sukses Dengan Kekuatan Sendiri

BHIKKHU PANNAVARO MAHATHERA

Bekerja dengan penuh semangat tanpa wisdom, suatu saat akan membuat seseorang kecewa.
Tetapi apa artinya wisdom tanpa semangat. Wisdom tanpa semangat akan membuat orang akan menyesal.
Manusia dalam hidupnya memerlukan kelengkapan.
Pakaian, makananan, tempat tinggal dan obat-obatan. Dan kebutuhan ini akan berkembang dan kebutuhan lainnya akan muncul, pendidikan, kendaraan, dan hiburan.
Dan kalau semuanya itu terpenuhi maka kemudian secara umum hidup seseorang itu di sebut sukses.
Saya akan menguraikan uraian saya meskipun tidak terlalu detail dengan dua hal yang saling melengkapi, yaitu faktor eksternal dan factor internal.

Faktor Eksternal

Ada kepercayaan di masyarakat yang rasanya kita semua pernah mendengar. Yaitu Nasib manusia tidak akan berubah kalau manusianya itu sendiri tidak mengubahnya.
Benar saudara....
Ungkapan ini benar sekali.
Jangan harap nasib kita berubah jika kita sendiri tidak siap dan tidak mau untuk mengubahnya.
Ada beberapa factor mental yang sangat diperlukan sekali, antara lain empat factor mental meskipun factor itu tidak hanya empat. Terutama untuk mencapai sukses yang di luar diri kita, antara lain:

Harus Berjuang


Kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan yang mengharuskan kita berjuang dan berjuang terus untuk mencapai keadaan yang lebih baik. Tiap orang harus mengakui bahwa kehidupan ini bukanlah suatu puncak, bukan pula suatu keadaan yang sesuai dengan harapan kita.

Apakah yang kita perjuangkan, yang kita usahakan? Tujuan kita memeluk suatu agama, berjuang dengan sungguh-sungguh adalah memperjuangkan agar kehidupan kita menjadi lebih baik, lebih teratur. Sesungguhnya mau atau tidak mau kita sudah mengakui bahwa kehidupan ini tidak memuaskan. Seandainya kita konsekwen dengan keyakinan bahwa kehidupan ini adalah suatu puncak kebahagiaan, tentunya kita tidak perlu beragama lagi, tidak perlu berjuang dengan sengit, tidak perlu meningkatkan kehidupan lagi, karena kehidupan kita sudah baik.

Buddha Tidak Pernah Menjanjikan Hal-Hal Indah Padaku

(Sebuah renungan yang Wajib dibaca..... khususnya umat Buddha !!!)

Buddha tidak pernah menjanjikan hal-hal indah kepadaku
Dia tidak pernah menjanjikan aku pasti akan ke surga atau nirvana bila percaya kepadaNya.
Buddha juga tidak pernah berkata" kalau tidak percaya Dia pasti masuk neraka.
Dia juga tidak memberikan sebuah dongeng yang mengerikan ataupun yg menyenangkan supaya aku percaya dan takut terhadapNYa.

Atau Buddha begitu lugu kah ? Di semua agama berkata. akulah yg menciptakan langit dan bumi ini.

Kenapa Dia tidak pernah mengatakan ", Akulah yg menciptakan langit dan bumi ini", oh..putra yg berbudi.
Dia juga tidak pernah menjanjikan hal-hal yg indah untuk ke depan, bahkan Dia juga tdk bisa mensucikan org lain.
Bahkan untuk mensucikan diri sendiri pun mengandalkan kita sendiri, tapi kenapa aku masih mau mengikuti ajaranya ?

Wisdom of Silence by Ajahn Brahm

Ajahn Brahm
Bagi kamu yang mengalami kesulitan bermeditasi, hal ini disebabkan kamu belum belajar bagaimana melepas pada saat bermeditasi. Mengapa kita tidak bisa melepaskan hal-hal sederhana seperti masa lampau atau masa mendatang? Mengapa kita begitu mempedulikan apa yang telah dilakukan dan dikatakan seseorang terhadap kita hari ini? Semakin banyak kamu memikirkannya, semakin bodohlah jadinya. Seperti pepatah kuno, “Ketika seseorang menyebutmu idiot, semakin sering kamu mengingatnya, maka semakin seringlah mereka telah menyebutmu idiot!” Jika kamu segera melepaskannya, kamu tidak akan pernah memikirkannya lagi. Paling banyak mereka hanya menyebutmu idiot sekali saja. Sudah! Selesai! Kamu bebas!

Perubahan

Tidak ada yang kekal di alam semesta ini, semuanya berubah. Apakah yang tidak berubah? Apa saja berubah! Perubahan memang dapat membawa pada kemajuan. Yang kecil menjadi besar, yang dulu tidak mampu sekarang hidupnya menjadi lebih baik, yang di bawah kemudian bisa naik. Semua itu terjadi karena fenomena perubahan. Kalau tidak ada perubahan, tidak akan ada kemajuan.

Kalau kita mengalami kesulitan yang sulit di pecahkan, tetapi kita menyadari bahwa di dunia ini semuanya terkena perubahan, maka akan timbul optimisme, timbul harapan bahwa persoalan apapun juga akan berubah. Kalau memang persoalan-persoalan itu tidak berubah, tentu kondisi, faktor lingkungan yang mengelilingi persoalan itu akan berubah. Tetapi, seandainya persoalan dan kondisinya tidak berubah dan kita sulit menerima hal atau keadaan itu, seiring dengan berjalannya waktu, tentu timbul perubahan di sekitar kita, maka permikiran kita juga berubah. Kalau sebulan yang lalu sangat sulit menerima, sekarang kita sudah siap untuk menerimanya.

Cukup Itu Berapa?

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata "cukup".

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan di sana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.


Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orangtuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang.


Kapankah kita bisa berkata cukup?



Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati.

Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa menerima kenyataan sebagaimana adanya. Tak perlu takut berkata cukup.

Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya."Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.


Belajarlah untuk berkata "Cukup"


Aku tak suka bibirku.. kurang seksi. Aku ingin seperti Angelina Jolie.



Di saat yang sama seseorang menghadapi kenyataan...

Timbunan kamma yang dimiliki hanya menghasilkan bibir seperti ini...


Tindakan Uposatha

Ditujukan untuk mereka yang akan beruposatha di hari2 uposatha

Bilamana, O para bhikkhu, tindakan Uposatha sempurna di dalam delapan faktor, maka buah dan manfaatnya pun berlimpah, bersinar dan merebak. Dan bagaimana tindakan Uposatha sempurna di dalam delapan faktor yang membuatnya memiliki buah dan manfaat yang melimpah, bersinar dan merebak?

Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia merenungkan demikian: "Selama hidup, para Arahat meninggalkan pembunuhan dan tidak melakukannya; dengan kail dan senjata yang disingkirkan, mereka penuh kesadaran, baik hati dan hidup dalam kasih sayang terhadap semua makhluk. Hari ini aku juga, selama siang dan malam ini, akan melakukan hal yang sama. Aku akan meniru para Arahat di dalam hal itu, dan tindakan Uposatha akan terpenuhi olehku." Inilah faktor pertama yang dimilikinya.

Selanjutnya, dia merenungkan: "Selama hidup, para Arahat meninggalkan perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan dan tidak melakukannya; mereka menerima hanya apa yang diberikan, mengharapkan hanya yang diberikan, dan berdiam dengan hati yang jujur, bebas dari keinginan mencuri. Hari ini aku juga, selama siang dan malam ini, akan melakukan hal yang sama...." Inilah faktor kedua yang dimilikinya.

Memadamkan Api Kemarahan Lewat Kearifan Buddhis

by Thich Nhat Hanh

Ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang membuat kita marah, tentu saja kita menderita.

Kita cenderung mengatakan atau melakukan sesuatu kembali untuk membuat orang tersebut menderita juga, dengan harapan bahwa penderitaan kita akan berkurang.

Kita berpikir "Aku ingin menghukum kamu, aku ingin membuat kamu menderita karena kamu telah membuat aku menderita dan ketika aku melihat kamu sangat menderita aku akan merasa lebih baik"

Jumat, 01 April 2011

Pupuk Keyakinan di Dalam Dirimu

Jika engkau tetap tenang,
ketika yang lain lepas kendali dan saling menyalahkan;
Jika engkau bisa mempercayai diri sendiri,
ketika yang lain meragukan dirimu.
Jika engkau bisa menanti dan tidak lelah menanti;
Atau sekalipun dibohongi, namun tidak membohongi;
Atau sekalipun dibenci, namun tidak membenci;
Tidak terlihat terlalu baik, tidak pula terlalu bijak.

Jika engkau bisa bermimpi dan tidak menjadikan mimpi sebagai gurumu;
Jika engkau bisa berpikir dan tidak menjadikan pikiran sebagai tujuanmu;
Jika engkau bisa bertemu kemenangan dan kemalangan,
dan memperlakukan keduanya sama.